Senin, 06 Juni 2011

Pesan Inti Surat Al- Alaq

Pesan Inti Surat Al- Alaq
       
I. PENDAHULUAN
           Sebagai rukun Islam yang pertama syahadat mengawali keabsahan keislaman seseorang. Atau dapat dikatakan jaminan keislaman seseorang pertama-tama diukur dari syahadatnya.Tegasnya pengakuan keislaman seseorang harus dibuktikan melalui syahadatnya.Dari sana penilaian dimulai.
           Yang mengherankan kita selama ini posisi dan kedudukan syahadat yang begitu penting, posisi paling strategis, begitu prinsip dan begitu menentukan, tetapi justru paling jarang dibicarakan. Akibatnya betapa banyaknya orang Islam yang betul-betul tidak mengerti syahadatnya.
            Tidak mustahil beberapa kelemahan yang kita lihat di lapangan akan keberadaan umat Islam yang cukup menyedihkan, mengherankan, bahkan terkadang memalukan adalah akibat syahadatnya yang tidak terbangun sebagaimana mestinya. Kurangnya pemahaman yang benar terhadap peranan dan posisi serta status dan fungsi syahadat adalah kendala yang cukup serius untuk segera diperbaiki bersama.
            Sikap menyepelekan syahadat sebagai akibat kekeliruan pemahaman yang melahirkan banyak sekali kesalahan , kesalahan yang berlanjut, terulang terus-menerus, karena dari awal syahadatnya sudah bermasalah.
Melalui kajian bina aqidah ini, sengaja kita berbicara banyak mengenai syahadat sebagai upaya menciptakan demam syahadat di kalangan ummat Islam. Ummat Islam perlu disentakkan untuk menyadari betapa mutlaknya syahadat ini segera dibenahi secara serius.
Insya Allah jika syahadat sudah terbagun dengan baik, kita akan menyaksikan keberadaan ummat Islam yang  menggiurkan seperti halnya pada mula kali kehadirannya di panggung sejarah, yang berhasil menawarkan satu bentuk peradaban yang sangat manusiawi.
Pada saat dunia ini mengalami krisis moral yang terparah dalam sepanjang sejarah perjalanan ummat manusia hanya Islam yang dapat diharapkan untuk menyelamatkannya. Dalam hal ini syahadat sebagai titik tolak mengawali segala perubahan dan perbaikan ummat.
Syahadatlah yang memberi hidup ini punya arti, punya posisi, dan potensi yang bernilai strategis. Sehingga kekayaan, kepintaran, dan apa saja namanya, manakala tidak dengan syahadat, maka semuanya hanya merupakan kekuatan pribadi yang dapat digunakan oleh kelompok dan pihak lain yang justru bisa merugikan Islam.
Syahadatlah yang menjalin dan menjaring serta mengikat potensi ummat yang berserakan menjadi satu potensi yang riil dan konkrit. Tidak berlebihan bila dikatakan kelemahan yang ada pun dengan syahadat bisa direkayasa menjadi satu kekuatan dalam barisan yag rapi.
Syahadat merupakan titik awal terbangunnya integritas keislaman seseorang yang sangat diperlukan dalam rangka mengundang keridhoan Allah SWT.

II. PROSES LAHIRNYA SYAHADAT
            Kelahiran syahadat yang ideal pada diri seseorang terproses sedemikian rupa. Ibarat sebuah pohon akan tumbuh secara bertahap mulai dari biji, berkecambah, tumbuh akar, calon daun, tumbuh batang, dan seterusnya. Dengan mentadabburi kandungan surah al-‘Alaq 1-5, kita akan memperoleh pelajaran yang fundamental. 

1.     Ta’bud (Menghambakan Diri) 
             Nilai yang pertama dapat diperoleh dari surah al-‘Alaq 1-5 adalah penempatan posisi Rabb dan kedudukanNya secara proporsional. Allah sebagai Rabb berperan sebagai Pencipta, Pemelihara, yang mengurusi semua yang ada di alam semesta termasuk manusia. Sedangkan al-Insan semata-mata sebagai objek yang diurus dan dipelihara oleh Rabbnya. Kesadaran bahwa dirinya dipelihara dan diurus setiap waktu dengan Rahman dan Rahim-Nya akan melahirkan kesadaran pengabdian (‘Ibadah) atau ta’bud. Kesadaran ini akan melahirkan kesiapan untuk mengabdi kepada Rabbnya. Hidupnya semata-mata akan dimanfaatkan sebagai pengabdian kepada Allah SWT. 

2.     Taslim (Menyerahkan Diri)
          Pertumbuhan berikutnya setelah kesadaran untuk mengabdi (ta’bud) akan diikuti oleh lahirnya kesadaran berikutnya untuk menyerahkan diri (taslim) kepada Penciptanya. Allah sebagai al-Khaliq (Maha Pencipta) dan dirinya sebagai makhluk. Itu berarti Allah sebagai subyek dan manusia sebagai obyek. Pemahaman ini akan melahirkan pilihan dalam hidup untuk mengikuti apa saja kemauan Allah sebagai subyek. Secara fisik alam dan seisinya tunduk dan patuh kepada aturan Allah. Begitu juga fenomena penciptaan Allah berjalan secara teratur tanpa ada yang bisa menghalanginya. Sebagaimana contoh penciptaan manusia. Manusia akan melewati lima fase kehidupan. Pertama, di alam ruh. Kedua, di alam dunia. Ketiga, di alan barzah. Keempat, di alam kiamat. Kelima, di alam akhirat. Seperti yang tercantum dalam firman Allah SWT





“Bagaimana kamu mengingkari kepada Allah padahal kamu tadinya mati lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali kemudian kepada-Nya kamu dikembalikan.” (Qs. al-Baqarah:28)

Potensi penyerahan diri (taslim) akan melahirkan kesiapan untuk menjalankan perintah apa saja dan kapan saja asal perintah itu datang dari Rabbnya. Orang yang sudah taslim dia akan selalu merespon dan siap menjalankan perintah Tuhan. Pada dirinya hanya berlaku satu kode etik sami’na wa ata’na (saya dengar dan saya taat). Sebagaimana Allah berfirman:

“Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul menghukum di antara mereka, mereka berkata: “Kami mendengar dan kami patuh”. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (Qs. an-Nur:51) 

3.     Ta’dzim (Mengagungkan Allah SWT) 
                     Allah memperkenalkan diri-Nya  sebagai al-Akram (Yang Maha Mulia). Artinya Allah memiliki segala sifat kesempurnaan, ketinggian, kemuliaan, dan segala predikat keagungan. Sedangkan manusia hanyalah makhluk yang hina yang terbuat dari segumpal darah (min ‘alaq). Artinya manusia memiliki segala kelemahan, keterbatasan, kerendahan, dan kehinaan semata-mata. Kesadaran bahwa dirinya hina dan lemah sementara Allah Maha Mulia dan Maha Kuat akan melahirkan ta’dzim (mengagungkan) Allah SWT. Sikap ini akan membuat dirinya merasa membutuhkan untuk selalu dekat dengan sumber kemuliaan yaitu Allah SWT. Ia akan berusaha memanfaatkan semua kesempatan yang dimilikinya untuk bersegera mendekati (taqorrub) kepada Rabbnya. Di lain pihak, Allah SWT Maha Pemurah  akan memberikan dan meneteskan kemuliaan dan kekuatan-Nya kepada siapa saja yang mendekati-Nya. Sebagaimana diungkap dalam hadist qudsi: 
“Jika hambaKu mendekatiKu sejengkal, Aku mendekati dia sehasta. Jika hambaKu mendekatiKu sehasta, Aku mendekati dia sedepa. Jika hambaKu mendekatiKu berjalan, Aku menyambut dia berlari.” (al-Hadist)
Sikap ta’dzim (mengagungkan Allah SWT) akan memotivasi diri untuk melaksanakan seluruh rangkaian ibadah baik wajib maupun sunnah. Fasilitas ibadah yang diajarkan oleh Allah dan Rasul-Nya akan direbut sebagai amalan yang sangat mengasyikkan. Ketenangan jiwa akan dirasakan begitu dia larut dalam ibadahnya. Semakin sering ibadah yang ia lakukan semakin memungkinkan dirinya memperoleh ketenangan jiwa. Sebagaimana Allah SWT janjikan dalam firman-Nya:


“Yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah hanya dengan mengingati Allah hati menjadi tentram.” (Qs. ar-Ra’du: 28) 

4.     Tahkim (Berhukum dengan ilmu-Nya) 
                Allah SWT memperkenalkan diri-Nya sebagai al-‘Alim (Maha Mengetahui) sedangkan manusia sebagai makhluk yang tidak mengetahui apa-apa (Lam ya’lam). Allah Maha Tahu sedangkan manusia maha bodoh. Tiada sikap yang patut bagi makhluk yang bodoh terhadap Tuhan yang Maha ‘Alim kecuali berhukum dengan aturan-Nya (bertahkim). Kesadaran ini akan melahirkan sikap dirinya memiliki kesiapan untuk menerima seluruh kebijakan yang datang dari Allah SWT. Aturan apa pun yang terkait dengan hidup dan kehidupan yang datang dari Allah SWT akan ia terima sebagai aturan yang berlaku bagi dirinya dan lingkungannya.
Dengan potensi kesadaran ta’bud, taslim, ta’dzim dan tahkim lahirlah sosok kepribadian baru yang memiliki integritas dan punya kesiapan untuk hidup sepenuhnya mengikuti maunya Allah sebagai Rabbnya.Itulah kepribadian orang yang bersyahadat.

III. HAKIKAT SYAHADAT
         Syahadat pada hakikatnya akan menumbuhkan dua kesadaran sekaligus, yaitu kesadaran akan statusnya sebagai hamba Allah dan kesadaran akan kedudukannya sebagai khalifah-Nya. Dua kesadaran ini kemudian berhasil diimplementasikan dalam kehidupan keseharian. Sadar sebagai hamba, berarti sadar bahwa dirinya sangat lemah, kapasitasnya sangat terbatas. Mereka sadar bahwa dirinya tergantung sepenuhnya kepada Allah SWT “Laa haula wa laa quwwata illa billah”. Kesadaran ini akan menuntut dirinya untuk senantiasa dekat dengan Allah SWT. Dirinya akan berhati-hati betul dengan cara menjaga nama baik di sisi-Nya. Sadar sebagai khalifah berarti sadar akan adanya tugas dan tanggung jawab yang tidak ringan. Kesadaran ini membuat dirinya tidak pernah menolak tugas. Seberat apa pun tugas yang diberikan kepada dirinya akan dia coba untuk dilaksanakannya.
         Syahadat akan melahirkan semangat taghyir, semangat untuk mengadakan perubahan dan perombakan. Semangat ini menyala dalam jiwanya. Selamanya mereka tidak akan pernah puas manakala belum berhasil memperbaiki keadaan yang ada pada zamannya menjadi lebih baik lagi daripada yang ada.







“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah (kondisi) suatu kaum sehingga mereka sendiri yang mengubahnya.” (Qs. ar-Ra’du:11)

         Setelah syahadat tertancap dan tumbuh, mereka tidak akan puas tanpa perubahan. Perubahan sekecil apa pun akan ia lakukan sebagai tuntutan syahadatnya.

IV. RUKUN SYAHADAT
         Sebagaimana rukun Islam yang lainnya seperti sholat memiliki sejumlah rukun yaitu rukun sholat. Begitu pula syahadat mempunyai rukun yang harus dipenuhi. Rukun syahadat ada dua, yaitu:
1. Annafyu (Penolakan)
2. Al-Istbat (Penetapan)
         Pada dasarnya syahadat adalah sikap yaitu menolak semua hal yang tidak sesuai dengan tuntutan iman. Sebaliknya ia akan menerima apa saja yang sesuai dengan tuntutan iman. Syahadat juga berarti menolak semua ilah dan menerima satu-satunya ilah yaitu Allah SWT. Allah saja yang diterima yang lainnya ditolak. Bersyahadat artinya bersaksi bahwa Allah saja sebagai Rabbnya. Kesaksian ini didasari keyakinan sepenuhnya dan dilandasi kesadaran setinggi-tingginya.
         Syahadat Laa ilaha illallah bermakna:
         Laa adalah kata penolakan (an-Nafyu),
         Ilaha adalah yang ditolak,
         illa (melainkan) adalah ugkapan pengukuhan (al-Istbat), dan
         Allah SWT adalah yang dikukuhkan (diistbatkan)
         Syahadat seperti ini akan melahirkan sikap loyalitas dan anti loyalitas (al-Wala’ wal Bara’). Loyalitas atau al-Wala’ hanya diberikan kepada Allah SWT, Rasul, dan orang-orang yang beriman. Unsur-unsur loyalitas meliputi ketaatan, pembelaan, dan kecintaan serta kesetiaan. Syahadat dengan sendirinya akan melahirkan ketaatan, kecintaan, kesetiaan, dan pembelaan tehadap Allah SWT, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman. Sikap ini akan muncul secara reflektif  sebagai wujud keberadaan syahadatnya. Syahadat juga akan melahirkan sikap sebaliknya, yaitu anti loyalitas (al-Bara’) terhadap selain Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman. Sikap al-Bara’ meliputi mengingkari, memusuhi, membenci, memutus hubungan, dan menghancurkan apa saja yang bathil.


V. SYARAT-SYARAT SYAHNYA KALIMAT SYAHADAT
         Ada beberapa persyaratan yang harus dimiliki apabila kita ingin mendapatkan syahadat secara benar sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW dan para sahabatnya antara lain:
1.Memahami maknanya (al-‘Ilmu)
Syahadat harus dipahami sedemikian rupa dengan pemahaman yang benar terhadap makna, hakikat, fungsi, dan segala sesuatu yang terkait dengan pengertian syahadat tersebut.
2.Meyakini dengan sepenuh hati (al-Yakin)
Memahami saja makna syahadat tidak akan berarti apa-apa jika tidak disertai keyakinan  di dalam hati. Betapa banyak orang-orang yang hafal bacaannya, fasih ucapan lidahnya, faham artinya, tetapi hatinya tidak benar-benar yakin. Orang seperti ini tidak akan mendapatkan apa-apa dari syahadat yang diikrarkannya. Iman itu hanya akan dianggap benar jika disertai dengan keyakinan dan tidak sedikitpun boleh ada keraguan dalam hatinya.
3.Menerima (al-Qobul)
Sebelum mengucapkan kalimat syahadat, seseorang harus terlebih dahulu menerima dan menyepakati secara bulat segala akibat yang timbul dari syahadatnya. Ia harus siap untuk dipimpin dan diatur menurut ketentuan Allah SWT. Kesepakatan ini sangat penting agar tidak terjadi kemunafikn di kemudian hari.
4.Membenarkan dengan perbuatan (as-Shiddiq)
Syahadat belum dapat dianggap benar sebelum terbukti kebenaran pernyataannya, yang dimanifestasikan dalam bentuk amal perbuatan. Jadi, syahadat bukan saja ucapan semata-mata tetapi harus ada pembuktian yang nyata. Kebenaran syahadat baru akan terbukti kebenarannya jika telah melalui ujian-ujian yang nyata. Kebenaran syahadat baru terlihat setelah orang yang bersangkutan membuktikannya melalui karya nyata berupa amal-amal sholeh sesuai dengan ketentuan Allah dan Rasul-Nya
5.Ikhlas karena Allah SWT (al-Ikhlas)
Keikhlasan merupakan kunci utama seluruh amal. Syahadat yang diucapkan harus semata-mata dimotivasi oleh dorongan ingin mendapatkan keridhoan Allah SWT
6.Ridho terhadap keputusan Allah (ar-Ridho)
Setiap orang yang mengucapkan kalimat syahadat, ia mesti ridho terlebih dahulu terhadap ucapannya. Artinya ia rela menghambakan diri hanya kepada Allah SWT, ia rela diatur dengan aturan-aturan Allah SWT, dan ia rela terhdap keputusan apa pun yang datang dari Allah SWT. Keridhoan ini ditunjukkan dengan sikap pasrah dan berserah diri kepada Allah

VI. HAL-HAL YANG MEMBATALKAN SYAHADAT
Ada beberapa hal yang dapat membatalkan syahadat seseorang, di antarnya:
1.     Syirik dalam beribadah kepada Allah (Qs. an-Nisaa’: 48)
2.     Membenarkan faham kesesatan
3.     Keyakinan bahwa petunjuk dari selain Nabi Muhammad SAW, lebih sempurna
4.     Membenci sebagian dari ajaran yang dibawa oleh Rasulullah SAW
5.     Mengolok-olokkan sebagian dari ajaran Rasulullah SAW
6.     Sihir, termasuk juga hanya sekedar cenderung kepadanya (Qs. al-Baqarah: 102)
7.     Mendzahirkan kemusyrikan dan saling menolong dengan musuh untuk memerangi kaum muslimin (Qs. al-Ma’idah: 51)
8.     Keyakinan bahwa sebagian manusia mempunyai keringanan untuk tidak mengikuti syari’at Nabi Muhammad SAW
9.     Berpaling dari dienullah (Qs. as-Sajadah: 22)
10.  Beriman pada sebagian al-Kitab dan kafir pada sebagian yang lain (Qs. al-Baqarah: 85)
11.  Beriman pada sebagian rukun iman dan ingkar pada sebagian yang lain. Seperti memisahkan keimanan pada Allah daripada Rasul-Nya (Qs. an-Nisaa’:15)

Reaksi:

0 komentar:

Poskan Komentar

SELAMAT DATANG ANDA TELAH MENGUNJUNGI BLOG INI <<>>>MOGA BERMANFAAT<<<<<<<>>>>>>>>JANGAN PERNAH MERASA BOSAN DALAM MENUNTUT ILMU TUNTUTLAH ILMU DARI MULAI HIDUP SAMPAI ANDA MATI......